Catatan Merah Mudah
No comments
Bukan Keinginanku
"Kawan, persahabatan diantara kita ibarat samudra rasa. Terkadang ia tenang, bergelombangpun hanya sedikit-sedikit seperti bersahabat dengan kita. Terkadang juga beriak, pakai perahupun dihempaskannya kita. Terkadang kita saling mendukung, terkadang pula kita saling membenci. Namun selama kita masih berkeinginan untuk memiliki samudra rasa itu, mari kita hancurkan ego kita. Walaupun memang berat"
Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini. Aku hanya bisa terdiam membisu sesaat wanita dengan kerudung berwarna pink itu menyuruhku untuk menilai semua teman-temanku dan mengungkapkannya di depan semuanya. Wanita itu adalah guru kita, sekaligus teman diskusi terhebat kita juga. Sebenarnya, menilai kelebihan dan kekurangan dari teman sendiri bagiku tidak masalah. Hanya saja ketika mengungkapkannya aku tidak bisa. Dalam pikirku, hal demikian dapat menimbulkan masalah jika salah dicerna. Aku tidak ingin temanku menjauhiku hanya karena hal sepele. Terlebih, temanku yang saat ini kunilai adalah teman yang sangat berharga bagiku sejak kelas 1 SMP. Banyak sekali kisah antara kita, senang bersama, sedih bersama bahkan pernah saling membenci juga. Namun justru semua kisah itulah yang membuat persahabatan kita jadi lebih erat. Jelas, aku terjebak dalam keadaan yang tidak aku ingini.
Walaupun aku sangat tidak siap, aku harus tetap melakukannya. Dan itu bukan karena keegoisanku, melainkan karena seruan wanita muda dengan kerudung pinknya itu. Kumohon jangan membenciku teman ketika aku mengungkapkan penilaianku yang jujur. Aku sangat takut sesaat sudah mengungkapkan penilaian terhadap sifat mereka, aku akan dihindari, dibenci, dan juga dijauhi. Itu sangat membuatku tidak nyaman. Sesaat masih duduk saja badanku bergetar-getar kecil tak karuan, apalagi nanti ketika di depan semuanya. Kikuk. Tatapanku kosong saat melihat ke depan. Berusaha mencari keberanian agar dapat berbicara. Apakah aku bisa? Sementara sudah tiga tahun lebih aku hidup bersama mereka berdelapan, dan aku sudah nyaman, tentram dan mengasikan berteman dengan mereka.
Aku mencoba mengumpulkan segenap jiwa ragaku. Ku kumpulkan semuanya menjadi satu kesatuan, disuatu tempat yang sangat terpencil. Hati.
Aku mulai sedikit demi sedikit menulis apa saja yang harus aku ucapkan nanti. Huruf perhuruf, kata perkata, bahkan kalimat perkalimat tak terasa telah aku lewatkan. Setiap kata sudah kutulis dengan makna dan kejujuran di dalamnya. Waktu terlalu cepat berlalu, berganti setiap detiknya. Dan sekarang adalah giliranku, wanita berkerudung pink itu telah menyebut namaku. Keringatku mulai muncul dari pori-pori kecilku. Berkumpul, mengalir, menetes. Tubuhku terasa panas dingin, perutku mulai mual. Dalam batinku berontak, sudah kubilang aku tidak bisa melakukannya. Maju perlahan ke depan kelas dengan kaku yang bergetar pelan-pelan. Sesampainya di depan, aku coba menarik nafas. Sangat dalam sekali. Sampai-sampai tulang rusukku menaik, perut mengempis dan juga mulut yang semakin merapat.
"Maaf"
Inilah kata pertama yang kuucapkan. Aku tidak ingin membuat teman-temanku tersinggung nantinya saat aku berbicara. Sebagai anak perantauan, hanya mereka yang tersisa dikehidupanku saat ini. Jika mereka menghilang, aku akan merasakan kesendirian yang sangat mendalam. Jika aku bisa, aku ingin menghidupkan kembali orang-orang yang aku sayangi yang telah tiada, namun itu sangat mustahil bagi manusia lemah sepertiku.
Semua sudah kukatakan, semuanya tanpa tersisa sedikitpun. Setelah mengungkapkan semuanya, keringat dingin membasahi bajuku. Padahal hembusan angin dari kipas angin disini sudah paling maksimal. Nomor 5. Aku sejenak terdiam, menundukan pandangan ke bawah. Kali ini aku tidak ingin menatap mata mereka semua, sama sekali tidak ingin. Namun diakhir beberapa saat kemudian kudengar suara tepuk tangan dan sorakan. Mereka tidak marah kah pada pernyataanku? Dari kejauhan sahabat terbaikku menyorakiku seperti aku adalah idolanya. Kemudian aku dipersilahkan balik ke tempat dudukku. Walaupun begitu, aku masih sangat kepikiran apakah kedepannya aku akan dibenci atau tidak. Yang terpenting aku akan menjadi teman terbaik untuk mereka.
Ciampea, 5 Mei 2015
0 komentar:
Posting Komentar